Rabu, 09 Februari 2011

Ranah 3 Warna

Setiap bulan saya selalu menghadiri acara bedah buku yang disellenggarakan oleh Book Club Majalah Eve. Khusus ulang tahun kedua Book Club mereka, diadakan lomba review Buku Ranah 3 Warna karya A. Fuadi. Sebagai anggota Book Club yang baek, saya ikutan mengirimkan tulisan reviewnya.

Alhamdulillah tulisan saya terpilih 1 dari 5 reviewer pilihan juri hehehe. Mau tahu tulisannya ? bisa di baca di bawah ini.


Ranah 3 Warna
Review oleh Denny Yerianto
Ternyata membuat review mengenai buku hebat “Ranah 3 Warna” memang tidak mudah. Apalagi untuk di-”lombakan” di majalah Eve Magazine. Berbekal waktu yang singkat dan buku Ranah 3 warna yang  tebal plus “Semangat Alif” yang pantang menyerah akhirnya tulisan yang cuman 1 lembar HVS ini bisa diselesaikan jelang berangkat ke Book Club. Sungguh tidak mudah bagi pemula seperti saya !
Ranah 3 warna mengisahkan perjuangan Alif untuk meraih mimpi-mimpi ke Amerika. Modal awal sekolah di Pondok Madani yang belum setara SMA, membutuhkan perjuangan panjang menuju Perguruan tinggi.  Tapi semangat man jadda wajada mengkandaskan segalanya menuju mimpi Amerika.
Oops, semangat man jadda wajada saja tak mampu menghadapi gempuran kehidupan.  Setelah Alif berhasil menembus UMPTN dan berkuliah di bandung, badai kehidupan tak juga surut. Kerja keras harus dilakukan Alif untuk membiayai hidup paska kematian ayahnya. Benturan kegagalan hidup itulah mengingatkan ia pada mantra sakti  kedua man shabara zhafira !
Buku ini mengajarkan kesabaran tanpa kita merasa dikuliahi soal kesabaran. Begitu banyak kisah Alif yang berujung kesabaran. Termasuk bagaimana Alif  di tempa oleh Bang Tigor untuk menjadi penulis handal di media massa nasional.
Tentu saja kisah yang ditulis Ahmad Fuadi tak lurus lempeng seperti buku pelajaran sekolah tentang moral. Dan tentu saja diisi kisah menarik ala remaja umumnya. Bagaimana Alif harus bersaing dengan sahabatnya Randai  untuk memperebutkan cinta Raisa, aihhh.
Buat saya yang jarang membaca buku sastra tebal, memang agak melelahkan membaca buku ini, terutama ketika memasuki separuh buku dimana Ahmad Fuadi mulai asik bercerita soal Yordania dan Kanada (tampaknya 3 warna tuh diambil dari kisah Bandung-Yordania-Kanada). Buat buat saya kok jadi seperti membaca laporan pandangan mata perjalanan menuju Kanada.
Bila di awal cerita, banyak sekali menggunakan istilah-istilah menggunakan bahasa Padang yang mengasikkan buat saya sebagai manusia Jawa (mungkin juga karena settingnya memang kehidupan di padang) , maka diparuh buku sisanya mulai  jarang dan digantikan pantun dari Rusdi, sahabat Alif dalam perjalanan menuju Kanada. Sebuah sentuhan “tradisional” yang mengasikkan, bukan ?
Dan buku ini ditutup dengan “pulang kampung” yang indah walaupun Alif gagal mendapatkan Raisa (tepatnya mengikhlaskan Raisa). Sebuah buku yang berisikan semangat mengejar mimpi dengan penuh kesabaran
“Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu. Dan Alhamdulillah aku sudah meregukmadu itu. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung”. Dikutip dari diary Alif  diujung buku Ranah 3 Warna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar